MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA DENGAN BERFIKIR POSITIF (POSITIVE THINKING)

berfikir positif

berfikir positif

“Pikiran positif datang dari kepercayan,pikiran negatif dating dari keragu-raguan; rasa takut yang benar adalah rasa takut yang digabungkan dengan harapan, karena itu lahir dari kepercayaan, serta kita berharap pada Tuhan kita yakini, sementara rasa takut yang salah digabungkan dengan keputusasaan, karena kita takut pada Tuhan; beberapa orang takut kehilangan-Nya, sementara yang lain takut mencarinya” (Pascal)

 

Mempelajari matematika adalah hal yang menyenangkan. Mengasah kreatifitas otak kiri sekaligus melatih berfikir kritis. Dengan belajar matematika berarti kita mempelajari sebuah cabang ilmu pengetahuan yang luas. Karena para ahli mengatakan bahwa matematika dipandang sebagai ilmu deduktif, ilmu tentang pola dan hubungan, seni dan bahasa serta matematika sebagai ratu dan pelayan ilmu[1]. Dengan demikian matematika dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu lain, menyenangkan bukan.

Dalam pembelajaran matematika, siswa diperkenalkan dan dibiasakan untuk memperoleh pemahaman melalui pengalaman tentang sifat-sifat yang dimilki oleh sekumpulan objek matematika yang abstrak[2]. Karena keabstrakan tersebutlah tidak jarang siswa “menyerah” dan berputus asa. Sehingga kesenangan yang diharapkan itu tiada muncul dipermukaan.

Sikap mudah menyerah dan putus asa ini merupakan indikasi pola fikir yang negatif. Padahal berfikir negatif sama halnya dengan membunuh ambisi, melemahkan kemauan, dan membahayakan diri sendiri[3]. Jika tetap dibiarkan begitu saja maka yang ada hanyalah kemunduran kepribadian dari siswa tersebut. Dengan demikian harus ada perubahan dari cara berfikir negatif ke barfikir positif.

Mempelajari matematika memerlukan pola berfikir positif. Pada Permendiknas No.22 menjelaskan bahwa matematika bertujuan agar siswa dapat memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep/ algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah[4]. Soedjadi juga menyatakan, bahwa dalam pembelajaran matematika perlu diperhatikan tujuan yang bersifat formal dan tujuan yang bersifat material. Tujuan yang bersifat formal lebih menekankan kepada penataan nalar dan pembentukan kepribadian siswa. Sedangkan tujuan yang bersifat material lebih menekankan kepada kemampuan memecahkan masalah dan menerapkan matematika[5]. Ini memberi pengertian bahwa orientasi pembelajaran matematika tidak terkungkung dalam aspek prestasi belajar saja, tetapi juga berorientasi pada penanaman berfikir positif dan peningkatan nalar kritis terutama dalam memecahkan masalah matematik.

Masalah matematik sering kali disajikan dalam bentuk soal. Soal-soal tersebut digunakan untuk mengaitkan pengetahuan terdahulu dengan pengetahuan baru yang diajarkan. Soal-soal tersebut disusun secara sistematis guna mengkonstruk pikiran anak dengan pengetahuan barunya. Soal dapat disampaikan secara lisan maupun tulisan. Jika terletak di awal pembelajaran lebih tepat menggunakan permasalahan sehari-hari dan disampaikan secara lisan/oral sebagai motivasi belajar siswa. Sedangkan untuk mengetahui seberapa besar prestasi belajar siswa lebih tepat menggunakan soal tertulis, karena instrumennya dapat dibuat dengan sesuai rencana. Namun yang jelas adalah keduanya memerlukan pikiran positif dalam pemecahannya..

Pikiran positif merupakan pikiran yang dapat membangun dan memperkuat kepribadian atau karakter[6]. Pikiran positif akan memacu diri kita untuk terus berusaha memaksimalkan potensi yang dimiliki siswa. Membuat diri lebih berani menerima tantangan dan melakukan hal-hal yang hebat. Pikiran positif ini timbul dari pola berfikir positif.

Berpikir  positif  adalah memandang  segala  persoalan  yang muncul  dari  sudut  pandang  yang positif, karena dengan berpikir positif  individu mempunyai pandangan bahwa  setiap hasil pasti ada pemecahannya   dan  suatu pemecahan yang  tepat diperoleh melalui proses  intelektual yang sehat[7]. Ini merupakan sebuah langkah yang hebat yang nantinya menjadi pemicu semangat siswa dalam menyelesaikan berbagai permasalahan.

Ada dua manfaat umum berfikir positif. Pertama, dapat mempengaruhi untuk memilih dan melakukan hal-hal yang tepat. Dalam masalah keseharian misalnya, kita memiliki banyak kebutuhan yang harus terpenuhi. Namun, kita tidak dapat memenuhinya dengan serentak, jelas ada prioritas kebutuhan. Prioritas kebutuhan tersebut menuntut adanya pilihan-pilihan yang tentu ada konsekuensinya. Orang yang berfikir negatif akan dengan mudah menentukan pilihan tersebut dengan tanpa memperhatikan konsekuensi. Cenderung subjektif dan tidak tepat sasaran sehingga kebutuhan hidupnya tidak terpenuhi. Sedangkan orang yang terbiasa dengan pola berfikir positif, dia lebih mementingkan kondisi objektif, sesuai dengan apa saja yang dia butuhkan, dengan demikian kebutuhannya dapat terpenuhi dengan maksimal.

Bagitu pula dalam pembelajaran matematika. Berfikir positif menjadi bekal siswa dalam memecahkan berbagai masalah dengan tepat. Dalam kondisi tertentu, siswa terkadang membutuhkan jawaban dari sebuah permasalahan yang cepat dan tepat tentunya. Hal ini akan sulit dilakukan tanpa adanya laithan-latihan yang membutuhkan semangat pantang menyerah.

Kedua, dapat mengarahkan kita sehingga fokus pada kelebihan. Orang yang berfikir positif akan mempunyai alasan untuk merasa bangga pada diri mereka sendiri dan mereka akan bisa menjalani hidup dengan bersemangat[8]. Jika kita berfikir positif,  maka kita adalah orang yang optimis dan tidak akan fokus pada keburukan diri sendiri ataupun orang lain.

Mengutip dari perkataan Elsa Sakina dalam bukunya Berfikir Benar, Berfikir Positif,

“Terkait bagaimana cara menghilangkan pikiran negatif khususnya dalam matematika menggunakan afirmasi “Saya tidak takut”, “Saya tidak lemah”, “Saya bukan orang gagal” tidaklah cukup. Karena focus pada hal positif lebih konstruktif. Maka kita perlu menghindari kata-kata negatif “takut”, “lemah”, dan “gagal”. Katakan saja “Saya percaya diri”, “Saya mampu”, “Saya orang sukses” dst. Kemudian lakukan itu dengan penuh semangat dan keyakinan.”

maka dengan demikian untuk menghilangkan pikiran negative dalam belajar matematika dirasa perlu untuk pandai-pandai membuat afirmasi pada diri sendiri. Misalnya “Saya mampu menyelesaikan soal ini”, “Saya Pantang menyerah”, “Saya yakin pasti bisa” dst.

Namun tetap diingat bahwa afirmasi tersebut haruslah diikuti dengan perbuatan nyata. Bisa saja siswa duduk di bangkunya menatap soal dengan mengucap afirmasi “Saya pasti bisa” tanpa melakukan apa-apa. Hal demikian tidak akan menghasilkan sebuah pencerahan. Bahkan ini lebih menjerumuskan.

Cara lain untuk membiasakan berfikir positif adalah dengan memfokuskan diri pada potensi yang kita miliki[9]. Mencoba membuat penilaian diri secara jujur tentang kemampuan diri dalam memecahkan masalah matematik. Namun tetap focus pada hal-hal yang bisa kita lakukan. Jangan focus pada hal negative, yaitu kelemahan diri kita. Sekali lagi fokus padaapa yang bisa kita lakukan, fokuslah pada potensi diri.

Hal tersebut diatas bukan berarti mengabaikan kelemahan diri. Misalnya, Budi mendapatkan sebuah permasalahan matematik dalam bentuk soal cerita, tapi Budi lemah dalam penalaran. Jika Budi fokus pada kelemahannya maka sudah barang tentu dia tidak akan mengerjakannya. Namun jika Budi fokus pada kemampuannya dia akan berusaha. Misalnya Dia bisa fokus pada kemampuannya meng”otak-atik” soal tersebut secara logika matematika. Jadi jelas terlihat perbedaannya.

Jika kita hanya memikirkan kelemahan, berarti kita membiarkan kelemahan tersebut menentukan hasil yang akan kita dapatkan. Sebaliknya, jika kita memikirkan kekuatan atau kelebihan, maka diri kita sendirilah yang menentukan hasil yang akan kita dapatkan.

Cara yang mungkin untuk membiasakan diri berfikir positif adalah dengan menuliskan kata-kata motivasi atau kata-kata bijak di tempat dimana kita sering melihatnya[10]. Di lemari, di kaca cermin, di pintu rumah atau bahkan di setiap buku catatan yang kita miliki. Untuk mendapatkannya (kata-kata bijak) kita dapat mengutip dari perkataan orang tua, guru kita, tema-teman yang kita anggap orang bijaksana, atau bahkan melalui situs penyedia kata-kata bijak seperti WikiQuote.org Dengan membaca kata-kata itu pikiran kita akan mendapatkan sebuah dorongan (baca:energi) untuk terus belaku positif dan melakukan hal-hal besar sakaligus lambat laun akan meninggalkan pikiran-pikiran negatif.

Masalah matematik bukanlah sebuah “momok” yang harus dihindari. Karena pada dasarnya masalah tersebut dimunculkan guna mengukur seberapa besar tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan. Gunakan metode berfikir positif untuk memecahkannya. Sehingga jika terdapat hambatan dalam pengerjaannya kita tidak mudah berputus asa. Setidaknya ada bentuk usaha keras untuk memecahkan masalah tersebut.

Membuang fikiran negatif kemudian menggantinya dengan pikiran positif dapat dilakukan dengan menggunakan afirmasi-afirmasi serta tindakannya. Dapat pula dilakukan dengan fokus pada kemampuan diri dalam memecahkan masalah. Selain itu, dengan menuliskan kata-kata motivasi atau kata-kata bijak cukup ampuh dalam proses membiasakan diri berfikir positif.

Akhirnya, teruslah berfikir positif karena keberanian sejati timbul dari kesabaran yang terus menerus.

Wallahu a’lam bisshowab[].

 

 


DAFTAR PUSTAKA

                     . Brain Based Learning dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik Siswa SMA. (tanpa tahun). Bandung:Universitas Pendidikan Indonesia

Depdiknas. Permendiknas No.22 tahun 2006 Tentang Standarisasi Sekolah Dasar dan Menengah.

Sakina, Elsa.2008.Berfikir Benar, Berfikir Positif.

Soedjadi, R. Kiat-Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia, (Jakarta: Dir. Jend. Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional,2000).

Tentama, Fatwa. Hubungan Antara Berfikir Positif dan Penerimaan Diri Pada Penyandang Cacat Tubuh Akibat Kecelakaan.(tanpa tahun).Yogyakarta: Universitas Ahmad Dhlan


[1] Anoname. Brain Based Learning dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik Siswa SMA.UPI Bandung.hlm.1

[2] Ibid.hlm.7

[3] Elsa Sakina.2008.Berfikir Benar, Berfikir Positif.hlm.1

[4] Depdiknas. Permendiknas No.22 tahun 2006 Tentang Standarisasi Sekolah Dasar dan Menengah.

[5] R. Soedjadi, Kiat-Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia, (Jakarta: Dir. Jend. Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional,2000).

[6] Elsa Sakina.2008.Berfikir Benar, Berfikir Positif.hlm.1

[7] Peale, 1977 dalam Fatwa Tentama. Hubungan Antara Berfikir Positif dan Penerimaan Diri Pada Penyandang Cacat Tubuh Akibat Kecelakaan.hlm.2

[8] Elsa Sakina.2008.Berfikir Benar, Berfikir Positif.hlm.6

[9] Ibid.hlm.7

[10] Ibid.hlm.5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: